PERKEMBANGAN EMOSI PESERTA DIDIK
UNTUK
MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Perkembangan Peserta Didik
yang
dibimbing bapak Joko Setiyono, M.Pd.
|
|
|
Oleh:
Amelia
Rohmana
IKIP PGRI BOJONEGORO
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
Mei 2016
KATA PENGANTAR
Assalamu`alaikum
warahmatullahi Wabarakatuh.
Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT
atas segala rahmat dan hidayah-Nya. Segala pujian hanya layak kita aturkan
kepada Allah SWT. atas segala berkah,
rahmat, taufik, serta petunjuk-Nya yang sungguh tiada terkira besarnya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Kajian
Perkembangan Peserta Didik” untuk memenuhi tugas matakuliah Perkembangan
Peserta Didik.
Penulis menyadari bahwa tentunya selalu
ada kekurangan, baik dari segi penggunaan kosa-kata, tata bahasa maupun
kekurangan-kekurangan lainnya. Oleh karena itu, dengan lapang dada penulis
membuka selebar-lebarnya kepada dosen pembimbing, penulis meminta masukannya demi perbaikan
pembuatan karya tulis ilmiah dimasa yang akan datang. Akhir kata, penulis
mengharapkan agar karya tulis ilmiah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamu`alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Bojonegoro, Mei 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR............................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................... 1
1.3 Tujuan........................................................................
1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan Peserta
Didik.................................... 2
2.2 Teori
Pertumbuhan dan perkembangan..................... 3
2.3 Dinamika
Perkembangan Peserta Didik.................... 7
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan.................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 14
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semua
manusia pada umumnya memiliki dorongan dan minat yang besar untuk mencapai atau
ingin memiliki sesuatu. Adanya perilaku seseorang dan munculnya berbagai kebutuhan
seseorang disebabkan oleh dorongan dan minat yang besar. Jika terpenuhi, itulah
dasar dari pengalaman emosionalnya. Perjalanan hidup seseorang satu dengan yang
lainnya itu tidak sama. Semua memiliki jalan sendiri-sendiri. Semua memiliki
pola sendiri-sendiri pula. Jika seseorang bisa memenuhi apa yang mereka
inginkan, maka mereka akan memiliki emosi yang stabil, dengan demikian bisa
menikmati hidupnya dengan sebaik-baiknya. Tetapi sebaliknya, jika seseorang
tidak bisa memenuhi apa yang mereka inginkan, maka mereka cenderung memiliki
emosi yang tidak stabil.
Seseorang
manusia dalam menanggapi sesuatu lebih banyak diarahkan oleh penalaran dan
pertimbangan-pertimbangan objektif. Tetapi pada saat tertentu, dorongan
emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan tingkah
lakunya. Oleh sebab itu, untuk memahami emosional peserta didik, guru memang
perlu mengetahui apa yang dia pikirkan dan dia lakukan. Yang lebih penting lagi
adalah mengetahui apa yang mereka rasakan. Gejala-gejala emosional seperti
marah, takut, malu, cinta, benci, dan lainnya perlu dicermati dan dipahami
dengan baik. Selanjutnya marilah kita tinjau secara rinci tentang perkembangan
emosi pada peserta didik.
1.2 Rumusan Masalah
- Apakah
pengertian perkembangan emosi itu?
- Bagaimana fase-fase
perkembangan emosi itu?
3.
Bagaimana karakteristik
perkembangan emosi usia remaja?
4.
Faktor–faktor apa yang mempengaruhi
perkembangan emosi?
5.
Bagaimana pengaruh emosi terhadap tingkah laku?
1.3 Tujuan
- Untuk
mengetahui pengertian perkembangan emosi pada peserta didik.
- Untuk
mengetahui fase-fase perkembangan emosi pada peserta didik.
- Untuk
mengetahui karakteristik perkembangan emosi remaja.
- Untuk
mengetahui Faktor–faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi pada
peserta didik.
- Untuk
mengetahui pengaruh emosi terhadap tingkah laku peserta didik.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perkembangan Emosi
Perilaku
kita sehari-hari pada umumnya di sertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti
peasaan senang atau tidak senang. perasaan
senang atau tidak senang yang menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari
disebut warna efektif. Perasaan-perasaan seperti ini disebut emosi
(Serlito, 1982: 59). Di samping perasaan senang dan tidak senang, beberapa
conoh macam emosi yang lain adalah gembira, cinta, marah, takut, cemas dan benci.
Emosi adalah suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu
keadaan biologis dan psikologis dan serangkain kecenderungan untuk bertindak
(Asrori, 2006). Pengertian lain emosi adalah suatu pengalaman afektif yang kuat
pada diri seseorang yang ditandai dengan adanya perubahan-perubahan pada diri
individu, baik keadaan mental maupun fisik serta berwujud suatu sikap dan
tingkah-laku yang tampak (Sunarto & Agung Hartono, 2008)
Menurut
Crow & Crow (1958) pengertian emosi itu adalah sebagai berikut:
“An emotion, is en affective experiences that
accompanies generalized inner adjusiment and mental and physiological stirred
up states it the individual, and that shows it self in his overt behavior”.
Jadi,
emosi adalah pengalaman efektif yang di sertai penyesuaian diri dalam diri
individu tentang
keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang nampak.
Para
peneliti sebagaimana dikemukakan Djali (2008), menemukan bentuk-bentuk emosi
untuk tiap jenis reaksi perubahan fisik tertentu seperti hal-hal sebagai
berikut:
a.
Rasa marah
Ditandai
dengan detak jantung meningkat, hormon adrenalin meningkat, dan mengalirkan
energi untuk memukul, mengumpat, dan lain-lain.
b.
Rasa takut
Ditandai
dengan tubuh terasa membeku, reaksi waspada, wajah pucat, dan darah terasa
mengalir ke otot rongga besar, misalnya kaki untuk dapat lari atau mata terasa
awas untuk mengamati kondisi sekitarnya.
c.
Rasa bahagia
Ditandai
dengan adanya peningkatan aktivitas dan pusat otak yang menhambat perasaan
negatif dan menenagkan perasaan yang menimbulkan kerisauan.
d.
Rasa cinta
Ditandai
dengan adanya perasaan kasih sayang serta pola simpatik yang menunjuk pada
respons relaksasi, yaitu kumpulan reaksi pada seluruh tubuh yang membangkitkan
keadaan yang menenangkan serta rasa puas untuk mempermudah kerja sama.
e.
Rasa terkejut
Ditandai
dengan naik alisnya individu. Hal ini merupakan reaksi untuk suatu kemungkinan
menerima lebih banyak informasi atau mencoba meyalami apa yang sedang terjadi
untuk merancang tindakan yang baik.
f.
Rasa jijik
Ditandai
dengan sikap hidung mengkerut menutupnya atau ungkapan lain wajah rasa jijik,
akibat rangsangan bau atau rasa menyengat.
g.
Rasa sedih
Ditandai
dengan menurunnya kegiatan atau semangat hidup yang melakukan kegiatan
sehari-hari karena menyesuaikan diri akibat adanya kehilangan yang menyedihkan
atau kekecewaan besar.
2.2 Fase-Fase
Perkembangan Emosi Peserta Didik
a.
Perkembangan emosi peserta didik usia pra sekolah
Perkembangan
emosional anak usia pra sekolah dapat digambarkan bahwa seiring perkembangan
fisik juga diikuti oleh perkembangan emosional dimana respon emosional makin
banyak berkaitan dengan situasi sosial (orang dilingkungan) dan rangsangan yang
simbolis atau abstrak. Pada masa ini anak kelihatan berperilaku agresif,
memberontak, menentang keinginan orang lain, khususnya orang tua. Pada usia ini
sikap menentang bisa berubah kembali bila orang tua, pendidik menunjukkkan
sikap konsisten dalam memperlihatkan kewibawaan dan peraturan yang telah
ditetapkan. Setelah berhasil secara tegas mempertahankan kewibawaan dengan
berpegang teguh pada patokan perilaku tertentu, pada anak akan terjadi
internalisasi nilai dengan tolak ukur orang tua dan selanjutnya bisa terjadi
proses identifikasi. Pada anak akan terlihat ada kemiripan dengan orang tua
dalam hal tertentu.
Pada masa ini orang tua, pendidik harus tetap berusaha
melihat tujuan pendidikan yakni mengembangkan kepribadian anak dan membentuk
perilakuknya sesuai dengan gambaran yang dicita-citakannya. Pada masa ini, anak
juga belajar menyatakan diri dan emosinya, mulai timbul rasa malu, takut,
sedih, bermusuhan, bersalah bahkan iri dan cemburu.
b. Perkembangan
emosi peserta didik usia sekolah dasar
Emosi memainkan peran yang
sangat penting dalam kehidupan seseorang, oleh sebab itu, perlu kiranya untuk
mengetahui bagaimana perkembangan dan dan pengaruh emosi terhadap penyesuaian
pribadi dan sosial. Sulit untuk mempelajari emosi anak-anak, karena informasi
tentang aspek emosi yang subjektif hanya dapat diperoleh dengan cara
instropeksi, sedangkan anak-anak tidak dapat menggunakan cara tersebut dengan
baik karena mereka masih berusia sangat muda.
Pola-pola emosi yang terjadi pada masa anak-kanak
adalah rasa takut, malu,
canggung, khawatir, marah, cemburu, duka cita, keingintahuan, gembira
dan kasih sayang.
c. Perkembangan emosi peserta didik usia Remaja (SMP/SMA)
Masa remaja atau masa adolensia merupakan masa peralihan atau masa transisi antara masa
anak ke masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami perkembangan yang pesat
mencapai kematangan fisik, sosial, dan emosi. Pada masa ini dipercaya merupakan
masa yang sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga dan
lingkungannya. Perubahan-perubahan fisik yang dialami remaja juga menyebabkan
adanya perubahan psikologis. Hurlock (1973: 17) disebut sebagai periode heightened emotionality, yaitu suatu
keadaan dimana kondisi emosi tampak lebih tinggi atau tampak lebih intens
dibandingkan dengan keadaan normal. Emosi yang tinggi dapat termanifestasikan
dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti bingung, emosi berkobar-kobar atau
mudah meledak, bertengkar, tak bergairah, pemalas, membentuk mekanisme
pertahanan diri. Emosi yang tinggi ini tidak berlangsung terus-menerus selama
masa remaja. Dengan bertambahnya umur maka emosi yang tinggi akan mulai mereda
atau menuju kondisi yang stabil.
2.3 Karakteristik Perkembangan Emosi Usia Remaja
Masa
remaja di anggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana
ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.
Biehler (1972) membagi cirri-ciri emosional remaja menjadi dua rentan usia,
yaitu 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
Ciri-ciri emosional
remaja berusia 12-15 tahun.
1) Pada
usia ini siswa/anak cenderung banyak murung dan tidak dapat di terka. Sebagian
kemurungan sebagai akibat dari perubahan-perubahan biologis dalam hubungannya
dengan kematangan seksual dan sebagian karena kebingungannya dalam menghadapi
apakah ia masih sebagai anak-anak atau sebagai orang dewasa. Hubungannya dengan kematangan
seksual dan sebagian karena kebingungannya dalam menghadapi apakah ia masih
sebagai anak-anak atau sebagai orang dewasa.
2) Siswa
mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya
diri.
3) Ledakan-ledakan
kemarahan mungkin biasa terjadi. Hal ini seringkali terjadi sebagai akibat dari
kombinasi ketegangan psikologis, ketidakstabilan biologis, dan kelelahan karena
bekerja terlalu keras atau pola makan yang tidak tepat atau tidur yang tidak
cukup.
4) Seorang
remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya
sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri.
5) Siswa-siswa
di SMP mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara lebih objektif dan
mungkin terjadi marah apabila mereka ditipu dengan gaya guru yang bersikap
serba tahu.
Ciri-ciri emosional
remaja 15-18 tahun
1) Pemberontakan
remaja merupakan pernyataan-pernyataan / ekspresi dari perubahan yang universal
dari masa kanak-kanak ke dewasa
2) Karena
bertambahnya kebebasan mereka, banyak remaja yang mengalami konflik dengan
orang tua mereka.
3) Siswa
pada usia ini seringkali
melamun, memikirkan masa depan mereka. Banyak di antara mereka terlalu tinggi
menafsir kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki
pekerjaan dan memegang jabatan tertentu
2.4 Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Perkembangan Emosi
Sejumlah
penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka
bergantung pada factor kematangan dan factor belajar (Hurlock, 1960: 266).
Selain kedua hal tersebut, perkembangan emosi juga dipengaruhi oleh
kondisi-kondisi kehidupan atau kultur.
Dengan
bertambahnya umur, menyebabkan terjadinya perubahan dalam ekspresi emosional.
Bertambahnya pengetahuan dan pemanfaatan media masa atau keseluruhan latar
belakang pengalaman, berpengaruh terhadap perubahan-perubahan emosional ini.
Perkembangan
emosional juga dapat dipengaruhi oleh adanya gangguan kecemasan, rasa takut dan
factor-faktor eksternal yang seringkali tidak dikenal sebelumnya oleh anak yang
sedang tumbuh. Namun sering kali juga adanya tindakan orang tua yang sering
kali tidak dapat mempengaruhi perkembangan emosional anak. Misalnya sangat
dimanjakan, terlalu banyak larangan karena terlalu mencintai anaknya. Akan
tetapi sikap orang tua yang sangat keras, suka menekan dan selalu menghukum
anak sekalipun anak membuat kesalahan sepele juga dapat mempengaruhi
keseimbangan emosional anak. Pelakuan saudara serumah, orang lain yang sering
kali bertemu dan bergaul juga memegang peranan penting pada perkembangan
emosioanal anak.
2.5 Pengaruh Emosi Terhadap Tingkah Laku
Emosi
dapat ,mempengaruhi tingkah laku, misalnya rasa marah atau rasa takut dapat
menyebabkan seorang gemetar, dalam ketakutannya , mulut menjadi kering detak
jantung mulai cepat, system pencernaan berubah selama pemunculan emosi
ini. Ganguan emosi juga dapat menjadi
kesulitan berbicara. Motivasi untuk belajar
anak akan membantu dalam
memusatkan perhatian pada apa yang ia kerjakan.
Rangsangan untuk belajar yang di
berikan harus berbeda-beda dan
disesuaikan dengan kondisi anak, karena reaksi setiap individu tidak sama
rangsangan rangsangan yang menghasilkan
perasaan yang tidak menyenangkan, akan sangat mempengaruhi hasil belajar.
Ada
perbedaan individual dalam perkembangan
emosional yang berbagai di
sebabkan oleh keadaan fisik, taraf kemampuan intelektual, kondisi
lingkungan dengan kaitannya dengan
penyelanggaraan pendidikan, guru dapat
melakukan berbagai upaya dalam
perkembangan emosi remaja misalnya: konsisten dalam pengelola kelas, mendorong
anak bersaing dengan diri sendiri, mencoba memahami remaja dan membantu siswa berprestasi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
emosi
adalah pengalaman efektif yang di sertai penyesuaian diri dalam diri individu
tentang keadaan mental dan
fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang nampak. Para peneliti sebagaimana dikemukakan Djali (2008),
menemukan bentuk-bentuk emosi untuk tiap jenis reaksi perubahan fisik tertentu
seperti rasa marah, takut, bahagia, cinta, terkejut, jijik, dan sedih.
Fase-fase perkembangan emosi peserta didik dapat dilihat
dari perkembanagan peserta didik dari usia pra sekolah, sekolah dasar dan di
usia remaja.
Masa
remaja di anggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana
ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.
Biehler (1972) membagi cirri-ciri emosional remaja menjadi dua rentan usia,
yaitu 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
Perkembangan
emosional juga dapat dipengaruhi oleh adanya gangguan kecemasan, rasa takut dan
factor-faktor eksternal yang seringkali tidak dikenal sebelumnya oleh anak yang
sedang tumbuh.
Emosi
dapat ,mempengaruhi tingkah laku, misalnya rasa marah atau rasa takut dapat
menyebabkan seorang gemetar, dalam ketakutan nya , mulut menjadi kering detak
jantung mulai cepat,system pencernaan berubah selama selama pemunculan emosi ini
DAFTAR PUSTAKA
Setiyono,
Joko. 2015. Perkembangan Peserta Didik.
Bojonegoro: IKIP PGRI Bojonegoro.
Supriadi, Oding. 2010. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta:
Kurnia Kalam Semesta.
Sunarto dan Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:
Rineka Cipta.

izin save and share yaa admin
BalasHapus